Ditulis oleh: Hesti Novia Kifli, S.S.
( Guru SMP IT Bina Insani Kayuagung)
.jpg)
Jujur adalah salah satu sifat terpuji manusia. Manusia, makhluk yang tercipta dengan segala bentuk, segala rasa, segala kisah. Kadang jujur, sering tidak jujur. Itu karena rasa dan kisah yang memoleskan di hati manusia sehingga menjadi kebiasaan yang sering kita sebut watak. Watak yang baik berasal dari hati yang jujur.
Jika kita telusuri setiap jengkal daerah kita, mungkin begitu sulitnya mencari manusia yang berhati jujur. Katanya orang-orang, kalau jujur pasti miskin. Betapa mirisnya hati mendengar opini tersebut. Sungguh sulitkah untuk jujur? Sungguh menyengsarakankah kejujuran itu? MasyaAlloh. Jangan sampai hal ini mengotori hati generasi muda penerus bangsa. Bukankah bumi kita, Indonesia, sungguh merindukan tangan-tangan suci yang bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik? Tak sadarkah kita bahwa segala masalah dan krisis yang melanda Negara kita disebabkan oleh tangan-tangan pemilik hati yang tidak jujur?
Mari kita tengok ke sebuah tempat yang belum begitu banyak orang tahu bahwa di dalamnya terdapat hati-hati yang jujur yang siap mengubah keadaan Negara ini menjadi lebih baik dengan tangan-tangannya. Di tempat itu mereka selalu diajarkan tentang nilai-nilai kejujuran. Di tempat itu mereka selalu diajak untuk berbuat jujur. Di tempat itu mereka selalu bahagia dengan praktek kejujurannya. Semuanya merasa merdeka karena berhasil berbuat jujur. Semua merasa bangga karena mendapatkan hasil dari kejujurannya itu.
SMP Islam Terpadu Bina Insani Kayuagung-OKI yang baru berdiri sekitar tiga tahun, tempatku bekerja, tempatku menyaksikan, tempatku mengeksplorasikan semua hal tentang dunia yang kutahu. Sungguh, begitu tenang ketika memasuki area sekolah ini. Aku sampai terharu menatap siswa-siswiku yang berbalut seragam putih biru datang seketika menyambutku tatkala aku melangkah memasuki koridor sekolah. Siswa-siswa putri antri hendak menyalami dan mencium tanganku sambil mulutnya berkicau mengucapkan salam dan menanyakan “apa kabar ustazah?”. Sedangkan, siswa putra menunggu di luar kerumunan siswa putri, juga hendak mengucapkan salam sambil menelungkupkan kedua tangannya di depan dada dan menundukkan kepala. Kadang aku jengah juga karena mereka begitu ramai sehingga menghambat jalanku. Tapi, mereka tetap menatapku dengan senyuman kejujuran mereka. Tak peduli suka atau tidak suka. Aku jadi merasa amat bodoh ketika aku menolak untuk disalami hanya karena ingin cepat-cepat tiba di kantor. Begitulah tiap kali bertemu dengan mereka di mana saja berada.
.jpg)
Tak hanya sampai di situ, ketika dalam pembelajaran semuanya menyambut dengan ceria dan ucapan salam serta takbir sebagai penyemangat. Mereka juga melantunkan yel-yel kelas dan lagu khusus mata pelajaran. Subhanalloh. Sepertinya, energi mereka tak pernah habis untuk selalu gembira. Sering, aku lupa untuk menanyakan pekerjaan rumah (PR) atau tugas mandiri dan kelompok yang pernah kuberikan. Mereka langsung unjuk tangan dan mengingatkan bahwa ada tugas/ PR yang harus mereka kumpulkan hari itu juga. Aku tersenyum bahagia mengetahui bahwa mereka begitu jujur menyampaikannya. Biasanya, di sekolah lain jika ada guru yang lupa menanyakan PR/tugas, semua murid akan merasa tenang dan senang karena pasti banyak yang belum menyelesaikannya. Tapi, di sekolah ini berbeda. Mereka risau jika mereka belum menunaikan tugas mereka. Dengan semangat menggebu, mereka segera mengeluarkan lembaran-lembaran tugas mereka. Namun, tiba-tiba ada beberapa yang datang mendekatiku dengan wajah merasa amat bersalah menyatakan bahwa mereka belum menyelesaikan tugas mereka karena alasan-alasan yang sungguh teramat jujur atau kita biasa menyebutnya polos. Mereka mengakui tidak menyelesaikannya karena ketiduran akibat larut menonton TV, kelelahan karena asyik bermain bola di sore harinya, dll. Dengan hati yang lapang dan penuh kesadaran mereka nyatakan siap menerima hukuman yang diberikan. Hukuman itu biasanya berupa lafaz istighfar, menyelesaikan tugas yang belum selesai dan menambahnya dengan tugas yang baru sebagai pengganti keterlambatannya mengumpulkan tugas sebelumnya. Mereka lakukan dengan tanpa beban melainkan wajah sumringah karena merasa bebas telah lepas dari beban rasa bersalah mereka. Sungguh, ini yang membuat aku bangga dengan mereka.
Selain itu, ada lagi hal yang menakjubkan yang merupakan cermin kejujuran mereka yang membuat aku semakin bangga. Ketika 1 bulan pertama mereka masuk ke sekolah ini banyak sekali masalah yang terjadi. Laporan demi laporan datang ke meja guru dan wali kelas tentang kehilangan uang, kalkulator, buku, sepatu, dll. Kebiasaan yang mereka bawa dari lingkungan sekolah lama menjadikan kami sebagai guru bersemangat untuk mengubah perilaku mereka itu. Dan, alhamdulillah selama 5 bulan terakhir ini tidak ada lagi laporan-laporan kehilangan melainkan laporan-laporan penemuan uang, alat tulis, tas, sepatu, dll yang ramai mereka sampaikan. Sampai-sampai uang senilai Rp 1.000 dan Rp 50,- mereka berikan kepada kami untuk dicarikan pemiliknya.
Sungguh. Bukan hanya itu bukti kejujuran mereka. Dalam hal mengerjakan ulangan di kelas. Kami tak perlu lagi repot-repot membelalakkan mata mengawasi pekerjaan mereka. InsyaAlloh dijamin, tak akan ada siswa yang berani mencontek. Mereka tak mau mencontek bukan karena takut dilihat oleh guru karena meskipun tidak ada guru yang mengawasi, kebiasaan berperilaku jujur mereka tetap diterapkan. Hal ini mereka lakukan karena kesadaran mereka bahwa sekalipun tidak ada guru yang melihat tetapi Alloh SWT Maha Melihat, Mengetahui, dan senantiasa Mengawasi mereka. Inilah yang menjadi pedoman berperilaku mereka. Mereka malu dan takut untuk melakukan perbuatan tidak terpuji itu.
Saya sangat bangga dengan perbuatan jujur mereka. Tentu, hal ini jarang kita temui. Saya dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dan kuliah, apabila tidak mau mencontek dikatakan “bodoh” dan ketika tidak mau memberikan contekan diteriakin “pelit” dan akan “dikucilkan”. Cacian dan makian saya dapatkan atas usaha saya untuk bisa berbuat jujur. Sangat sulit. Tapi saya tetap teguh untuk mempertahankannya. Padahal, betapa bangganya kita ketika mendapatkan hasil dari kerja keras kita sendiri meskipun nilai yang didapat belumlah memuaskan daripada hasil mencontek. Alhamdulillah, kini suasana dan kebiasaan jujur untuk tidak mencontek bisa ditularkan kepada siswa-siswi kami melalui penanaman nilai-nilai agama dan moral. Hal ini mereka pegang teguh dimanapun mereka berada. Semoga, bisa ditularkan kepada teman-teman mereka yang lain yang ada di luar SMP Islam Terpadu Bina Insani. Semoga pula, hal ini dapat menjadi contoh bagi orangtua dan para pemimpin bangsa kita. Bahwa, berbuat jujur itu mudah dan indah.

2 komentar:
sISWa SmP IT
=) Ikhlas
=) Cerdas
=) Tangkas
siiip....mantap!
Posting Komentar